Rabu, 28 Maret 2012

Ekonomi Indonesia Terjajah Kembali

Diposting oleh Dyah Retno Wulandari di 3/28/2012 04:55:00 PM 0 komentar
Ekonomi Indonesia Terjajah Kembali

YOGYAKARTA-Demokrasi ekonomi telah lama menjadi amanat konstitusi, khususnya Pasal 33 UUD 1945. Namun, penerapannya saat ini masih jauh dari keinginan. Liberalisasi dan privatisasi sektor-sektor ekonomi strategis telah semakin mengukuhkan ketimpangan struktur ekonomi Indonesia. Bukan saja karena segelintir elit pemilik korporasi yang kini menguasai mayoritas aset dan hasil produksi nasional, tetapi juga karena mereka sebagian besar berasal dari luar negeri.
Peneliti dari Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (Pustek) UGM, Awan Santosa, S.E., M.Sc., mengatakan corak keterjajahan ekonomi Indonesia ini setidaknya tampak dalam beberapa indikasi, seperti kondisi Indonesia yang masih menjadi pemasok bahan mentah, misalnya migas, batubara, emas, CPO, kakao, susu, dan berbagai produk mentah lain bagi pihak luar negeri. “Bahan mentah ini sebagian besar telah dikuasai perusahaan swasta luar negeri, seperti pada 85% kontrak minyak dan gas bumi,” tutur Awan dalam Seminar Bulanan Pustek dengan tema ‘Nasionalisme dan Kemandirian Ekonomi’, Kamis (19/5).
Selain itu, ekonomi Indonesia masih menjadi pasaran bagi pabrikan atau perusahaan luar negeri. Ia mencontohkan impor pangan Indonesia yang mencapai 110 triliun rupiah/tahun, berupa kedelai sebesar 2,2 juta ton/tahun. Awan menambahkan saat ini Indonesia juga masih menjadi pemasok tenaga kerja yang diupah murah bagi perusahaan dan pihak-pihak di luar negeri. Padahal, negara dengan jumlah penduduk lebih besar dari Indonesia, seperti India dan China, tidak mengirimkan tenaga kerja tidak terampilnya ke luar negeri. “Sayangnya, Indonesia juga masih mengalami ketergantungan yang parah dalam penyusunan UU yang terkait dengan pengelolaan ekonomi nasional, seperti UU BUMN, UU Ketenagalistrikan, dan lain-lain,” katanya.
Kondisi ini menandakan kemakmuran tidak lagi untuk masyarakat. Indonesia yang kaya dengan SDA, kimiskinan dan pengangguran masih saja bertambah. Agar masyarakat tidak lagi menjadi kuli di negeri sendiri, kedaulatan ekonomi yang menjadi ruh demokrasi ekonomi harus digelorakan kembali.

Jumat, 02 Maret 2012

Perekonomian Indonesia 2010

Diposting oleh Dyah Retno Wulandari di 3/02/2012 09:34:00 AM 0 komentar
Perekonomian Indonesia 2010

Ekonomi adalah aspek terpenting dari suatu negara. Maju mundurnya suatu negara dilihat dari sisi ekonominya. Ekonomi pula yang menjadi tolak ukur pembangunan dan kesejahteraan di suatu negara. Mengapa ekonomi menjadi amat sangat penting dalam suatu negara? Kata “Ekonomi” biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari dan memang tidak pernah lepas dari kegiatan kita. Semua yang kita lakukan mulai dari membuka mata sampai menutup mata lagi adalah termasuk kegiatan ekonomi. Seseorang yang mampu mengelola perekonomiannya dengan baik, akan dipandang oleh orang lain karena kemampuan pengelolaannya itu. Begitupun dengan suatu negara, suatu negara akan dipandang oleh negara lain melalui perekonomiannya. Lantas bagaimana dengan perekonomian Indonesia sendiri?
Perekonomian Indonesia pernah mengalami masa jatuh bangun dari awal proklamasi hingga zaman reformasi seperti sekarang ini. Berbagai strategi-strategi telah diterapkan oleh para menteri-menteri perekonomian guna membangun perekonomian Indonesia yang kokoh. Puncaknya, Indonesia mengalami kemerosotan yang dramatis pada masa krisis ekonomi yang menyebabkan angka inflasi yang meningkat begitu pesatnya pada akhir era orde baru. Angka pengangguran meningkat pesat yang menyebabkan kemiskinan bertambah pesat pula. Namun, seiring bergantinya era menjadi era reformasi perekonomian Indonesia sedikit demi sedikit menunjukkan perbaikan.
Pada tahun 2009, Asian Development Bank (Bank Pembangunan Asia) memprediksikan bahwa perekonomian Asia akan meningkat 6,6 persen dengan Indonesia sebagai motor penggeraknya. Ini memberikan optimisme dan motivasi tersendiri bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada khususnya dan Asia pada umumya. Namun, hal ini tersandung oleh krisis global yang dialami negara adidaya Amerika Serikat. Krisis global ini memberikan dampak yang hebat pada perekonomian negara-negara di dunia. Krisis global ini juga memberikan efek yang buruk pada negara-negara penggerak ekonomi lainnya seperti di Eropa dan Timur –Tengah. Para investor lebih berhati-hati untuk berinvestasi di negara-negara yang sedang mengalami krisis ekonomi. Sedikit demi sedikit para investor melirik Asia untuk berinvestasi terutama RRC dan Indonesia.
Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara di Asia Tenggara, bahkan dunia yang mampu bertahan dari krisis ekonomi. Berdasarkan laporan dari World Economic Outlook yang diterbitkan IMF, Indonesia diperkirakan mampu meraih pertumbuhan ekonomi positif dengan kisaran angka 4,8 persen. Perkiraan yang lebih optimis dikeluarkan oleh Consensus Economic Inc yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,4 persen pada tahun 2010. Perekonomian Indonesia tahun ini tumbuh positif dari kontribusi sektor-sektor ekonomi berbasis domestik, yaitu sektor pertanian, komunikasi, konstruksi, perdagangan dan transportasi. Pada tahun 2010, perekonomian nasional diuntungkan dengan perbaikan kinerja ekonomi kawasan Asia dan beberapa negara mitra dagang RI sehingga kinerja perdagangan luar negeri Indonesia diperkirakan juga mengalami perbaikan. Perekonomian nasional tahun 2010 juga didukung oleh indeks keyakinan konsumen yang mengalami peningkatan ditambah dengan investasi dalam negeri yang juga mengalami perbaikan.
Pemerintah SBY-Boediono sedang menyusun kabinet baru dan pada saat baru terbentuk, kabinet baru ini diganggu dengan skandal Bank Century. Para pelaku ekonomi di Indonesia mulai sadar bahwa tidak ada gunanya berharap terlalu banyak pada pemerintah, mereka cenderung mencari peluang sendiri demi kepentingan bisnisnya. Para ahli yakin krisis politik yang saat ini mulai mengganggu legitimasi pemerintah SBY tidak akan berpengaruh terhadap kondisi ekonomi nasional. Para investor melihat krisis politik itu hanya terjadi pada tataran elite politik dan tidak akan sampai ke tingkat bawah.
Hal yang harus menjadi perhatian justru perilaku investor yang kemungkinan besar akan menanamkan modalnya di Indonesia melalui bursa saham. Kinerja ekonomi Indonesia yang positif mengundang aliran dana investasi dari luar negeri. Momentum ini harus dimanfaatkan dengan baik. Pemerintah harus melakukan terobosan agar aliran dana di sektor keuangan bisa dipergunakan untuk mendanai sektor riil.
Beberapa sektor riil yang patut mendapat perhatian pada tahun 2010 adalah pembangunan infrastruktur dan industri padat karya. Dua sektor ini berpotensi menciptakan banyak lapangan kerja. Masalah pengangguran dan kemiskinan bisa diatasi dengan perbaikan di dua sektor ini. Jika itu yang terjadi, maka perbaikan indikator ekonomi Indonesia di tahun 2010 akan menjelma menjadi perbaikan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Rabu, 29 Februari 2012

Tugas Perekonomian Indonesia Minggu 4

Diposting oleh Dyah Retno Wulandari di 2/29/2012 03:16:00 PM 0 komentar
Nama  : Dyah Retno Wulandari
NPM    : 22211296
Kelas  : 1EB21

Perkembangan Strategi dan Perencanaan Pembangunan Ekonomi Indonesia

A.   Strategi Pembangunan
Berikut adalah macam-macam strategi pembangunan, yaitu :
1.      Strategi Pertumbuhan
Adapun inti dari konsep pembangunan yang pertama ini adalah :
a.    Strategi pembangunan ekonomi suatu negara akan terpusat pada upaya pembentukan modal, serta bagaimana menanamkannya secara seimbang, menyebar, terarah, dan memusat, sehingga dapat menimbulkan efek pertumbuhan ekonomi.
b.    Pertumbuhan ekonomi akan dinikmati oleh golongan lemah melalui proses merambat ke bawah (trickle down effect) pesdistribusian kembali.
c.    Jika terjadi ketimpangan atau ketidakmerataan, hal tersebut merupakan prasyarat terciptanya pertumbuhan ekonomi.
d.    Kritik paling keras dari strategi yang pertama ini adalah bahwa pada kenyataan yang terjadi adalah ketimpangan yang semakin tajam.
2.      Strategi Pembangunan dengan pemerataan
Inti dari konsep ini adalah, dengan ditekankannya peningkatan pembangunan melalui teknik sosial engineering, seperti halnya melalui penyusunan perencanaan induk, dan paket program terpadu.
3.      Strategi Ketergantungan
Inti dari konsep strategi ketergantungan adalah :
a.    Kemiskinan di negara-negara berkembang lebih disebabkan karena adanya ketergantungan negara tersebut dari pihak/negara lainnya.
b.    Teori ketergantungan ini kemudian dikritik oleh Kothari dengan mengatakan “...teori ketergantungan tersebut memang cukup relevan, namun sayangnya telah menjadi semacam dalih terhadap kenyataan dari kurangnya untuk membangun masyarakat itu sendiri.
4.      Strategi yang berwawasan ruang
Strategi ini dikemukakan oleh Myrdall dan Hirscman, yang mengemukakan sebab-sebab kurang mampunya daerah miskin berkembang secepat daerah yang lebih kaya/maju. Menurut mereka kurang mampunya daerah miskin berkembang secepat daerah maju dikarenakan kemampuan/pengaruh menyebar dari kaya ke miskin lebih kecil daripada terjadinya aliran sumberdaya dari daerah miskin ke daerah kaya. Myrdall tidak percaya bahwa keseimbangan daerah kaya dan miskin akan tercapai, sedangkan Hirscman percaya, sekalipun baru akan tercapai dalam jangka panjang.
5.      Strategi pendekatan kebutuhan pokok
Sasaran dari strategi ini adalah menanggulangi kemiskinan secara masal. Strategi ini dikembangkan oleh Organisasi Perburuh Sedunia (ILO) pada tahun 1975, dengan menekankan bahwa kebutuhan pokok manusia tidak mungkin dapat dipenuhi jika pendapatan masih rendah akibat kemiskinan yang bersumber pada pengangguran. Maka sebaiknya usaha-usaha diarahkan pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan pemenuhan kebutuhan pokok dan sejenisnya.

B.   Faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pembangunan
Pada prinsipnya, pemilihan strategi apa yang akan digunakan dalam proses pembangunan sangat dipengaruhi oleh pertanyaan ‘Apa tujuan yang hendak dicapai ?’
Jika tujuan yang hendak dicapai adalah menciptakan masyarakat yang mandiri, maka strategi ketergantunganlah yang mungkin akan dipakai. Jika tujuan yang ingin dicapai adalah pemerataan pembangunan, maka strategi yang berwawasan ruanglah yang digunakan.

C.   Strategi Pembangunan Ekonomi Indonesia
Strategi pembangunan yang kemudian dipertegas dengan ditetapkannya sasaran dan titik berat setiap Repelita, yakni :
a.    Repelita I        : Meletakkan titik berat pada sektor pertanian dan industri yang mendukung sektor pertanian meletakkan landasan yang kuat bagi tahap selanjutnya.
b.    Repelita II       : Meletakkan titik berat pada sektor pertanian dengan meningkatkan industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku meletakkan landasan yang kuat bagi tahap selanjutnya.
c.    Repelita III      : Meletakkan titik berat pada sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi meletakkan landasan yang kuat bagi tahap selanjutnya.
d.    Repelita IV     : Meletakkan titik berat pada sektor pertanian untuk melanjutkan usaha-usaha menuju swasembada pangan dengan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri, baik industri ringan yang akan terus dikembangkan dalam Repelita-Repelita selanjutnya meletakkan landasan yang kuat bagi tahap selanjutnya.

Sumber : Aries Budi S., 1996, Buku Paket Perekonomian Indonesia, Universitas Gunadarma, Jakarta

Tugas Perekonomian Indonesia Minggu 3

Diposting oleh Dyah Retno Wulandari di 2/29/2012 03:12:00 PM 0 komentar
Nama  : Dyah Retno Wulandari
NPM    : 22211296
Kelas  : 1EB21

Sistem Perekonomian Indonesia

1.    Para Pelaku Ekonomi

Dalam perekonomian Indonesia dikenal pelaku ekonomi pokok yaitu Koperasi, Sek. Swasta, dan Sek. Pemerintah.
Sesuai dengan Trilogi Pembangunan, maka masing-masing pelaku tersebut memiliki fungsi yaitu :
a.    Koperasi : Pemerataan hasil ekonomi, Pertumbuhan kegiatan ekonomi, Kestabilan yang mendukung kegiatan ekonomi.
b.    Swasta : Pertumbuhan kegiatan ekonomi, Pemerataan hasil ekonomi, Kestabilan yang mendukung kegiatan ekonomi.
c.    Pemerintahan BUMN : Kestabilan yang mendukung kegiatan ekonomi, Pemerataan hasil ekonomi, Pertumbuhan kegiatan ekonomi.

2.    Latar Belakang BUMN
Latar belakang pendirian BUMN ini nampaknya bermacam-macam, tergantung dari periode pendiriannya dan kebijaksanaan Pemerintah saat itu. Beberapa BUMN merupakan kelanjutan dari perusahaan-perusahaan yang didirikan pada zaman sebelum kemerdekaan. Beberapa perusahaan didirikan pada zaman perjuangan kemerdekaan, yang menonjol dalam hal ini adalah CTC (Central Trading Company) yang kemudian berkembang menjadi PT Panca Niaga, lahirnya Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) sebagai akibat nasionalisasi perusahaan-prusahaan perkebunan milik Belanda oleh Pemerintah. Demikian pula lahirnya PELNI sebagai akibat nasionalisasi KPM milik Belanda. Berbagai landasan pendirian perusahaan negara tersebut telah menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam pengendaliannya. Untuk mengatasi berbagai masalah pengendalian ini maka disusunlah Undang-undang No 19 Tahun 1960 mengenai perusahaan negara. Undang-undang ini merupakan tonggak penting dalam pengelolaan dan pengendalian BUMN di Indonesia. Melalui Undang-undang ini ditetapkan peranan dan fungsi perusahaan negara dan berbagai badan pengendalian yang penting. Dalam usaha membangun ekonomi diusahakan peran serta seluruh lapisan masyarakat dan mengurangi campur tangan Pemerintah yang menghambat perkembangan ekonomi. Dalam iklim demikian ini dirumuskan perundangan yang akan meletakkan kembali peran BUMN sebagai aparatur perekonomian negara dalam sistem perekonomian Indonesia. Perumusan ini telah melahirkan Undang-undang No 9 Tahun 1969 dimana dalam konsiderinya jelas mencerminkan kedudukan /peranan BUMN dalam sistem perekonomian Indonesia, antara lain :
1.    Bahwa perusahaan Negara sebagai unit ekonomi yang tidak terpisah dari sistem ekonomi Indonesia perlu segera disesuaikan pengaturan dan pembinaannya menurut isi dan jiwa ketetapan MPR sementara Nomor XXIII/MPRS/1966
2.    Bahwa dalam kenyataannya terdapat Usaha Negara dalam bentuk Perusahaan Negara berdasarkan UU Nomor 19 Tahun 1960 yang dirasakan kurang efisien, sehingga dipandang perlu untuk segera ditertibkan kembali
Berdasarkan Undang-undang Nomor 9 Tahun1969 tersebut,sesuai dengan fungsi serta status hukumnya maka perusahaan negara diklasifikasikan dalam 3 bentuk, sebagai berikut :
a.    Perusahaan Jawatan (PERJAN) dengan ciri-ciri sebagai berikut :
·         Merupakan BUMN yang bersifat public service, yaitu pelayanan kepada masyarakat.
·         Permodalan termasuk bagian dari APBN yang dikelola oleh Departemen yang membawahkannya
·         Statusnya mempunyai kaitan dengan hokum public
b.    Perusahaan Umum (PERUM) dengan ciri-ciri sebagai berikut :
·         Merupakan BUMN yang bersifat public utility, yaitu melayani kepentingan umum dan diharapkan memupuk keuntungan 
·         Modal seluruhnya milik negara dari kekayaan negara yang dipisahkan 
·         Berstatus badan hokum dan diatur berdasarkan Undang-unahaadang 
c.    Perusahaan Perseroan (PERSERO) dengan ciri-ciri sebagai berikut :
·         Merupakan BUMN yang bersifat "profit motive "
·         Modal seluruhnya atau sebagian milik negara dan dibagi atas saham-saham
·         Berstatus badan hokum perdata yang terbentuk perseroan terbatas (PT)

3.    Peranan BUMN
Betapa penting peranan BUMN dalam sistem perekonomian Indonesia dapat dilihat dari maksud dan tujuan dari kegiatan PERJAN , PERUM dan PERSERO, sebagaimana tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1983,sebagai berikut :
a.    Memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian negara pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya.
b.    Mengadakan pemupukan keuntungan/pendapatan
c.    Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa barang dan jasa yang bermutu dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak.
d.    Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi.
e.    Menyelenggarakan kegiatan usaha yang bersifat melengkapi kegiatan swasta dan koperasi dengan antara lain menyediakan kebutuhan masyarakat ,baik dalam bentuk barang maupun dalam bentuk jasa dengan memberikan pelayanan yang bermutu dan memadai
f.     Turut aktif memberikan bimbingan kegiatan kepada sektor swasta khususnya pengusaha golongan ekonomi lemah dan sektor koperasi 
g.    Turut aktif melaksanakan dan menunjang pelaksanaan kebijaksanaan dan program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan pada umumnya

Sumber :
Aries Budi S., 1996, Buku Paket Perekonomian Indonesia, Universitas Gunadarma, Jakarta

Penawaran

Diposting oleh Dyah Retno Wulandari di 2/29/2012 01:24:00 PM 0 komentar
Penawaran

Penawaran dapat diartikan sebagai jumlah barang dan jasa yang tersedia dan dapat dijual oleh penjual.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran
Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran adalah :
a.      Harga
Jika harga suatu barang mengalami kenaikan, maka jumlah barang yang ditawarkan oleh penjual semakin banyak, karena penjual mau mengambil keuntungan. Tapi jika harga suatu barang mengalami penurunan, jumlah barang yang ditawarkan akan sedikit.
b.      Teknik produksi
Semakin maju alat yang digunakan untuk memproduksi barang, maka akan semakin cepat proses produksinya dan semakin banyak produk yang dihasilkan. Penemuan-penemuan alat baru dapat mengurangi jumlah pekerja yang dibutuhkan dan dapat menurunkan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan.
c.       Harga sumber produksi
jika harga suatu bahan baku mengalami kenaikan, maka produsen akan mengurangi jumlah produksinya, karena produsen tidak mau rugi, tapi sedangkan jika harga suatu bahan baku mengalami penurunan, maka produsen akan menambah jumlah produksinya sebanyak-banyaknya, karena produsen ingin memperoleh keuntungan yang cukup besar.
d.      Perkiraan
Jumlah barang yang ditawarkan produsen pada saat ini juga dapat dipengaruhi oleh perkiraan terhadap masa depan.
Hukum Penawaran
Bila harga turun, maka kuantitas barang yang ditawarkan akan turun juga. Sedangkan bila harga naik, maka kuantitas barang yang ditawarkan akan meningkat.

Sumber : Adji, Wahyu. 2007. Ekonomi. Jakarta : Erlangga

Permintaan

Diposting oleh Dyah Retno Wulandari di 2/29/2012 01:23:00 PM 0 komentar
Permintaan (Demand)

Permintaan adalah jumlah barang atau jasa yang ingin dan mampu dibeli oleh konsumen, pada berbagai tingkat harga, dan pada periode tertentu.
Dari definisi diatas, ada dua kata yang menjadi dasar pengertian permintaan. Pertama, konsumen ingin memiliki benda pemuas kebutuhan, dan yang kedua konsumen memiliki kemampuan untuk memperolehnya. Jika kedua hal tersebuut terpenuhi, berarti yang terjadi disini adalah permintaan efektif, dimana konsumen ingin dan mampu membeli benda pemuas kebutuhan tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan
Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan adalah :
a.      Harga
Tinggi-rendahnya suatu harga akan berpengaruh terhadap suatu permintaan barang kebutuhan. Jika harga suatu barang mengalami kenaikan, permintaan akan suatu barang akan berkurang, sedangkan jika harga suatu barang mengalami penurunan, permintaan akan suatu barang akan meningkat.
b.      Pendapatan
Tidak dapat dipungkiri bahwa pendapatan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi permintaan. Karena jika pendapatan seseorang naik, permintaan akan suatu barang juga meningkat, begitu sebaliknya.
c.       Harga barang subtitusi
Jika harga suatu barang subtitusi mengalami kenaikan, permintaan suatu barang yang sudah kita tentukan itu akan meningkat, karena orang tidak akan mau rugi. Sedangkan jika harga suatu barang subtitusi itu mengalami penurunan, seseorang akan beralih ke barang subtitusi tersebut.
d.      Harga barang komplementer
Jika harga suatu barang komplementer itu tinggi, permintaan akan suatu barang yang lain itu akan berkurang, karena kedua barang tersebut sifatnya saling melengkapi. Begitu juga sebaliknya.
e.       Selera Konsumen
Selera adalah salah satu faktor yang sangat kuat dalam mempengaruhi permintaan. Berapapun harga barang diturunkan, jika konsumen tidak memiliki selera untuk menggunakan barang tertentu, maka tidak terjadi permintaan terhadap barang tersebut. Begitupun sebaliknya.
f.        Perkiraan
Perkiraan terhadap situasi masa yang akan datang juga berpengaruh terhadap permintaan. Misalnya, jika kamu memperkirakan bahwa kamu akan mendapatkan banyak uang minggu depan, maka kamu tidak akan ragu-ragu untuk membelanjakan uangmu hari ini.
Hukum Permintaan
Bila harga naik, jumlah barang yang diminta akan turun. Bila harga turun, jumlah barang yang diminta akan naik.

Sumber : Adji, Wahyu. 2007. Ekonomi. Jakarta : Erlangga

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2012 Tertinggi di ASEAN

Diposting oleh Dyah Retno Wulandari di 2/29/2012 01:21:00 PM 0 komentar
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2012 Tertinggi di ASEAN

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara – negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia (5,2 %), Thailand (4,5 %), Filipina (5,0 %) dan Singapura (4,4 %). Indonesia sendiri menargetkan pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 – 6,9 %. Demikian disampaikan Menteri Keuangan Agus D.W. Martowardojo, saat Rapat Paripurna dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Gedung DPR Senayan, Jakarta pada kemarin Selasa (31/05).
Pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 – 6,9 % pada 2012 merupakan tantangan yang cukup besar. Sumber – sumber pertumbuhan ekonomi telah diperkirakan mencapai level yang cukup tinggi. ”Konsumsi masyarakat dan konsumsi pemerintah diperkirakan masing – masing tumbuh 4,8 – 5,2 % dan 6 – 6,4 %,” ujar Menkeu. Sementara itu, investasi telah diperkirakan tumbuh double digit 10 – 10,4 %, dimana dana yang dibutuhkan berkisar sekitar Rp2.800 triliun.
Dari sisi perdagangan internasional, Menkeu mengemukakan, meskipun volume perdagangan dunia diperkirakan melambat di tahun 2012, ekspor – impor diperkirakan tetap meningkat masing – masing sebesar 14,9 – 15,3 % dan 18 – 18,4 %. ”Beberapa langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi adalah meningkatkan daya beli masyarakat melalui pengendalian laju inflasi dan mendorong realisasi penyerapan anggaran, memperbaiki iklim investasi dan mempercepat pembangunan infrastruktur,” paparnya.
Menkeu menyampaikan, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerintah telah menyiapkan kebijakan fiskal yang bersifat ekspansif pada tahun 2012. Kebijakan alokasi anggaran ditujukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkualitas, memperluas penciptaan lapangan kerja, dan mengurangi angka kemiskinan. ”Kebijakan – kebijakan tersebut tercermin dalam peningkatan alokasi yang cukup signifikan untuk pembangunan infrastruktur, berlanjutnya berbagai program pengentasan kemiskinan dan bantuan subsidi untuk pertanian,” jelas Menkeu.
Keseluruhan kebijakan tersebut akan mendukung upaya untuk memperluas lapangan kerja, yang selanjutnya diharapkan akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan menurunkan jumlah penduduk miskin.

 

Dyah Retno Wulandari Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review