Selasa, 08 November 2011

Ekspor & Impor

Diposting oleh Dyah Retno Wulandari di 11/08/2011 08:16:00 PM 0 komentar
Pengertian / Definisi Ekspor dan Impor Serta Kegiatannya

Kegiatan menjual barang atau jasa ke negara lain disebut ekspor, sedangkan kegiatan membeli barang atau jasa dari negara lain disebut impor, kegiatan demikian itu akan menghasilkan devisa bagi negara. Devisa merupakan masuknya uang asing kenegara kita dapat digunakan untuk membayar pembelian atas impor dan jasa dari luar negeri.
Kegiatan impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Produk impor merupakan barang-barang yang tidak dapat dihasilkan atau negara yang sudah dapat dihasilkan,tetapi tidak dapat mencukupi kebutuhan rakyat.
A.     Produk ekspor dan impor dari negara Indonesia
Secara umum produk ekspor dan impor dapat dibedakan menjadi dua yaitu barang migas danbarang non migas. Barang migas atau minyak bumi dan gas adalah barang tambang yang berupa minyak bumi dan gas. Barang non migas adalah barang-barang yangukan berupa minyak bumi dan gas,seperti hasil perkebunan,pertanian,peternakan,perikanan dan hasil pertambangan yang bukan berupa minyak bumi dan gas.
1.         Produk ekspor Indonesia
Produk ekspor Indonesia meliputi hasil produk pertanian, hasil hutan, hasil perikanan, hasil pertambangan, hasil industri dan begitupun juga jasa.
a.         Hasil Pertanian
Contoh karet, kopi kelapa sawit, cengkeh,teh,lada,kina,tembakau dan cokelat.
b.        Hasil Hutan
Contoh kayu dan rotan. Ekspor  kayu atau rotan tidak boleh dalam bentuk kayu gelondongan atau bahan mentah, namun dalam bentuk barang setengah jadi maupun barang jadi, seperti mebel.
c.         Hasil Perikanan
Hasil perikanan yang banyak di ekspor merupakan hasil dari laut. produk ekspor hasil perikanan, antara lain ikan tuna, cakalang, udang dan bandeng.
d.        Hasil Pertambangan
Contoh barang tambang yang di ekspor timah, alumunium, batu bara tembaga dan emas.
e.         Hasil Industri
Contoh semen, pupuk, tekstil, dan pakaian jadi.
f.         Jasa
Dalam bidang jasa, Indonesia mengirim tenaga kerja keluar negeri antara lain ke malaysia dan negara-negara timur tengah.
2.         Produk Impor Indonesia
Indonesia mengimpor barang-barang konsumsi bahan baku dan bahan penolong serta bahan modal. Barang-barang konsumsi merupakan barang-barang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,seperti makanan, minuman, susu, mentega, beras, dan daging. bahan baku dan bahan penolong merupakan barang- barang yang diperlukan untuk kegiatan industri baik sebagai bahan baku maupun bahan pendukung, seperti kertas, bahan-bahan kimia, obat-obatan dan kendaraan bermotor.
Barang Modal adalah barang yang digunakan untuk modal usaha seperti mesin, suku cadang, komputer, pesawat terbang, dan alat-alat berat. produk  impor indonesia yang berupa hasil pertanian, antara lain, beras, terigu, kacang kedelai dan buah-buahan. produk impor indonesia yang berupa hasil peternakan antara lain daging dan susu.
Produk impor Indonesia yang berupa hasil pertambangan antara lan adalah minyak bumi dan gas, produk impor Indonesia yang berupa barng industri antara lain adalah barang-barang elektronik, bahan kimia, kendaraan. dalam bidang jasa indonesia mendatangkan tenaga ahli dari luar negeri.
B.     Kegiatan pertukaran barang dan jasa antara Indonesia dan luar negeri
Secara umum pertukaran barang dan jasa antara satu negara dengan negara lain dilakukan dalam bentuk kerjasama antar lain:
1.         Kerjasama Bilateral
kerjasama bilateral adalah kerjasama yang dilakukan oleh kedua negara dalam pertukaran barangdan jasa.
2.         Kerjasama regional
kerjasama regional adalah kerjasama yang dilakukan dua negara atau lebih yang berada dalam satu kawasan atau wilayah tertentu.
3.         Kerjasama multilateral
kerjasama multilateral adalah kerjasama yang dilakukan oleh lebih dua negara yang dilakukan dari seluruh dunia.
C.     Manfaat kegiatan ekspor dan impor
Berikut ini manfaat dari kegiatan ekspor dan impor
1.      Dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
2.      Pendapatan negara akan bertambah karena adanya devisa.
3.      Meningkatkan perekonomian rakyat.
4.      Mendorong berkembangnya kegiatan industri


Sumber : http://syadiashare.com/pengertian-ekspor-dan-impor.html

Minggu, 06 November 2011

Tugas Pengantar Bisnis Bab 6

Diposting oleh Dyah Retno Wulandari di 11/06/2011 01:17:00 PM 0 komentar
Nama Kelompok :
1. Dyah Retno Wulandari ( 22211296)
2. Erni Rismayana (22211475)
3. Nur Rindi Dwi J (25211323)
4. Velly Nuroctavia (27211253)
5. Widya Ayu Nurhayati (27211386)
Kelas : 1EB21



Tugas Pegantar Bisnis
Bab 6

1.      Jelaskan perbedaan pasar dengan pemasaran !
Jawab :
Perbedaan pasar dengan pemasaran adalah :
·           Pasar adalah Tempat terjadinya transaksi jual beli untuk orang-orang yang mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhan, uang untuk belanja serta kemauan untuk membelanjakannya yang dilakukan oleh penjual dan pembeli yang terjadi pada waktu dan tempat tertentu atau kumpulan pembeli dan penjual yang melakukan transaksi atas sebuah produk atu kelompok produk tertentu (misalnya, pasar perumahan atau bahan makanan)
·           Pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.

2.      Berikan contoh masing-masing 5 untuk :
a.       Jenis pasar industri
b.      Pasar penjual
Jawab :
a.       Contoh dari Pasar Industri yaitu :
·         Pabrik benang,
·         Pengusaha Mebel,
·         Pengusaha Alat-alat Rumah Tangga,
·         Pengusaha kapas,
·         Pabrik pensil.
b.      Contoh dari Pasar Penjual yaitu :
·         Buka Grosir Buah murah, lalu jual ke pedagang eceran.
·         Beli Kepiting Bakau dari pengepul, lalu jual ke eksportir.
·         Membeli ban di pabrik ban mobil, lalu dijual di bengkel.
·         Membeli mobil kemudian di sewakan ke konsumen.
·         Membeli sambel pecel di produsennya, kemudian dijual dipasar-pasar.

3.      Apa  yang dimaksud konsep inti pemasaran !
Jawab :
Yang dimaksud dengan Konsep inti pemasaran adalah seperangkat konsep yang menciptakan satu pondasi untuk manejemen pemasaran dan orientasi pemasaran holistik.
Konsep-konsep inti pemasaran antara lain sebagai berikut :

a.       Kebutuhan, keinginan, dan permintaan.
b.      Pasar sasaran, penentuan posisi, dan segmentasi.
c.       Tawaran dan Merk.
d.      Nilai dan Kepuasan.
e.       Saluran pemasaran.
f.       Rantai Pasokan.
g.       Persaingan.
h.      Lingkungan pemasaran.
i.        Perencanaan pemasaran.

4.      Sebut dan jelaskan 4 variabel bauran promosi !
Jawab :
Bauran Pemasaran terdiri dari :

a.       Produk : Segala sesuatu yang ditawarkan kepada masyarakat untuk dilihat, dipegang, dibeli atau dikonsumsi.
b.      Saluran Distribusi : Saluran yang digunakan produsen untuk menyalurkan dari produsen ke konsumen atau pembeli industri.
c.         Harga : Sejumlah uang yang konsumen bayar untuk membeli produk atau mengganti hal milik produk.
d.         Tempat : Berbagai kegiatan perusahaan untuk membuat produk yang dihasilkan / dijual terjangkau dan tersedia bagi pasar sasaran.
e.    Promotion : Berbagai kegiatan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan memperkenalkan produk pada pasar sasaran.


5.      Sebutkan beberapa alternatif sistem pemasaran !
Jawab :
Beberapa alternatif sistem pemasaran yaitu :
·           Memaksimumkan Kepuasan Konsumen.
·           Memaksimumkan Mutu Hidup.
·           Memaksimasi nilai pelanggan.
·           Memberikan kepuasan total pelanggan.
·           Memaksimalkan nilai msa hidup pelanggan.
·           Membentuk ikatan pelanggan yang kuat.

Sabtu, 05 November 2011

5 Tips Hadapi Pasar Saham yang Buruk

Diposting oleh Dyah Retno Wulandari di 11/05/2011 09:22:00 PM 0 komentar
5 Tips Hadapi Pasar Saham yang Buruk

Ada lima langkah yang bisa dilakukan dalam menghadapi pasar yang buruk yaitu : 
1.      Susun strategi yang tepat sebelum pasar semakin buruk 
Jika Anda ingin berinvestasi di saham, ada kesempatan dalam bearish market. Anda bisa membeli saham berkualitas tinggi saat pasar saham jatuh. Cari perusahaan yang akan memberi dividen dalam waktu dekat. Jika Anda tidak ingin mengeluarkan dana terlalu besar, berinvestasilah secara bertahap melalui saham-saham yang memberikan dividen, setelah itu Anda bisa keluar. 
2.      Rencanakan uang Anda sebelum berinvestasi 
Uang tunai pernah menjadi dewa sebelum akhirnya nilai tukarnya jeblok. Tapi bukan berarti Anda tidak bisa dapat untung dari uang tersebut. Fokuslah pada kebutuhan jangka pendek terlebih dahulu, seperti dana darurat, pengeluaran asuransi, tagihan pajak dan lain-lain. Hindari menyimpan uang di asuransi atau bank yang memiliki eksposur ke Eropa. Cari bank berbunga simpanan rendah tapi aman. 
3.      Gemukkan dana pensiun Anda
Dana pensiun yang dimaksud bukan tunjangan hari tua, tapi uang lebih yang bisa Anda hasilkan dari pasar saham. Jangan berhenti berinvestasi hanya karena pasar sedang turun. Anda bisa memborong lebih banyak saham begitu indeks jeblok. Cari perusahaan-perusahaan bagus, tidak hanya di bursa dalam negeri tetapi cari sampai ke negara-negara berkembang. Ini merupakan cara yang paling baik untuk mendapatkan keuntungan yang besar.
4.      Lindungi aset-aset Anda
Apakah Anda punya berbagai macam asuransi atau simpanan untuk uang muka rumah yang akan digunakan dalam waktu dekat? Kalau begitu, tidak ada gunanya Anda masuk ke pasar modal. Lebih baik konsentrasi terlebih dahulu kepada hal tersebut di atas. Lebih baik Anda cari kredit kepemilikan rumah (KPR) berbunga rendah atau asuransi dengan premi yang tidak terlalu besar untuk mengamankan aset Anda.
5.      Jujurlah kepada penasihat keuangan Anda
Jika menurut anda risiko sudah mulai naik, Anda perlu berkomunikasi dengan penasihat keuangan Anda dengan segera. Pertanyaan yang paling berat adalah, Anda siap rugi sampai berapa banyak? Apakah 10 persen, 20 persen atau tidak sama sekali? Jika Anda menjelang pensiun, mintalah penasihat keuangan Anda untuk melakukan hedging terhadap portofolio saham Anda ketika pasar sedang jatuh. Siapa yang bisa dipercaya untuk melindungi Anda? Penasihat yang andal akan mendengarkan kekhawatiran dan aspirasi anda. 
Sebenarnya tidak masalah situasi pasar bergerak seperti apa jika para penasihat keuangan ini bekerja sesuai keinginan Anda. Jika mereka melakukan pekerjaanya dengan baik, tidak perlu lagi ada istilah bullish atau bearish.

Strategi Pemasaran Untuk Bisnis Kecil

Diposting oleh Dyah Retno Wulandari di 11/05/2011 09:05:00 PM 0 komentar
Strategi Pemasaran Untuk Bisnis Kecil

Anda yang kini tengah merintis bisnis kecil, atau yang baru dalam tahap berpikir untuk memulainya, sebaiknya membaca tips berikut ini. Ini tentang strategi pemasaran untuk bisnis kecil.
1.      Jangan beriklan seperti bisnis besar
Bisnis besar beriklan untuk mengukuhkan brand dan penjualan di masa depan. Bila bisnis Anda baru saja dimulai dalam skala yang kecil, lebih baik fokuskan iklan untuk mendongkrak penjualan. Caranya, cantumkan alamat lengkap atau nomor kontak yang jelas dalam iklan yang Anda buat, agar konsumen mudah merespons.
2.      Tawarkan versi hemat
Menghadapi produk baru yang belum dikenal, biasanya konsumen cenderung memilih yang murah harganya. Jadi, usahakan menjual dengan harga yang lebih rendah daripada produk sejenis yang lebih dulu terkenal. Bila kualitas produk Anda lebih baik dari produk pesaing, dengan harga yang lebih murah, konsumen pasti akan beralih ke Anda.
3.        Tawarkan versi premium
Selain versi murah meriah, Anda bisa mendiversifikasi produk dengan menawarkan versi premiumnya. Anda bisa menggabungkan beberapa produk atau jasa dalam tawaran satu paket premium spesial, dengan harga yang lebih mahal.
4.      Coba cara pemasaran kreatif
Selain beriklan di media massa, rajin mengikuti bazar, Anda bisa meningkatkan penjualan dnegan berpromosi secara langsung kepada target market Anda. Contoh, buatlah leaflet dan kirimkan ke calon konsumen sesuai target.
5.      Iklan kecil
Kurangi ukuran iklan sehingga Anda dapat memasang iklan lebih banyak dengan biaya yang sama. Anda mungkin akan kaget karena efek iklan-iklan kecil Anda jauh lebih baik ketimbang iklan besar tapi hanya sekali tayang.
6.      Kerjasama dengan pebisnis kecil lainnya
Kontaklah beberapa pebisnis kecil yang bukan kompetitor Anda. Tawarkan untuk bekerjasama dalam mempromosikan produk. Dengan demikian, area promosi Anda bisa lebih luas.
7.      Manfaatkan konsumen
Konsumen yang loyal akan membantu perkembangan bisnis Anda. Manfaatkan mereka sebagai agen promosi tak resmi. Misalnya, dengan memberikan tawaran-tawaran khusus untuk mereka sebelum diberikan kepada khalayak umum. Pastikan pelanggan Anda setia, karena penguatan testimonial dari mereka jauh lebih efektif ketimbang iklan-iklan Anda di media massa.

Infrastruktur Penghambat Ekonomi

Diposting oleh Dyah Retno Wulandari di 11/05/2011 08:49:00 PM 0 komentar
Infrastruktur Penghambat Ekonomi

Komitmen eksekusi dari berbagai kesepakatan ekonomi yang selama ini dijalankan pemerintah dirasakan tidak ada artinya. Bagaimana tidak, berbagai komitmen yang disepakati secara nalar dan logika juga membutuhkan persiapan serta modal yang kuat. Salah satu persoalan adalah tragedi infrastruktur yang masih dipandang sebelah mata dalam perspektif prioritas kebijakan.
Pembangunan infrastruktur seyogyanya tidak hanya dipandang dari logika untung dan rugi dalam konteks uang dan tender, hingga berorientasi jangka pendek (short term). Seharusnya logika yang dipaki adalah berkelanjutan (sustainability), sehingga berdampak rembetan (multiplier effect)yang luar biasa bagi perekonomian dalam negeri.
Sulit dibayangkan bahwa infrastruktur yang tak kunjung membaik bisa menawarkan daya saing perekonomian, khususnya bila berbicara masalah industri dalam negeri. Juga sulit membayangkan bahwa ACFTA (ASEAN-China Free Trade Agreement) dan seputar perdagangan bebas malah akan menjadi senjata makan tuan bagi kita. Belum berbicara keuntungan, kita malah dibikin repot seputar tekanan perdagangan produk dari Tiongkok. Sehingga memaksa pemerintah ingin menegosiasikan ulang terkait dengan pelaksanaan ACFTA.
Hal ini dapat dijadikan parameter, betapa sesungguhnya Negara ini belum siap untuk unjuk gigi di kancah global. Industri dalam negeri yang masih pontang-panting menghadapi permasalahan infrastruktur menjadi dasarnya.
Contoh kecil saja, paling tidak ada pemborosan Rp 37 Triliun dari sisi biaya angkutan akibat buruknya infrastrukturyang berdampak pada meningkatnya biaya produksi dan harga barang (Media Indonesia, 7/4/2011). Ini merupakan biaya ekonomi tinggi (high cost economy) yang berakibat fatal pada perubahan tata kelola dan strategi dan secara instan akan memengarugi daya saing suatu industri. Dengan demikian, efisiensi masih merupakan sesuatu yang jauh dari harapan.
Lihat saja, sebagai contoh, hasil penelitian Asia Foundation dan LPEM UI yang menyebutkan bahwa biaya operasional rata-rata truk di Indonesia mencapai US 0,34/km, padahal rata-rata di Asia hanya di kisaran US 0,22/km.
Selain itu, infrastruktur yang belum menjadi prioritas dari buah kebijakan dapat dilihat dari pertumbuhan dari daya saing infrastruktur 2010, Indonesia hanya lebih baik dari misalnya, Vietnam yang berada di urutan ke-83 dari 139 negara di dunia. Atau Filipina di urutan ke-103, dan Negara kita di posisi ke-82.
Peringkat ini merosot tajam. Sebab, sebelumnya kita berada pada posisi 43 pada 2007 dari 150 negara. Sedangkan World Economic Forum menempatkan Indonesia pada skor 3,7 dari maksimal 7 poin soal kualitas infrastruktur. Bandingkan dengan Thailand dengan skor 4,9, atau saudara muda kita Malaysia dengan skor 5,5.
Pada kasus jalan raya, misalnya, Negara ini terluas di ASEAN, namun panjang jalan di Indonesia adalah yang terpendek di ASEAN.Menurut ADB (Asian Development Bank), Indonesia merupakan salah satu negar yang memiliki kepadatan jalan terendah di ASEAN, baik untuk setipa seratus orang dan setiap kilometer persegi. Sedangkan pada 2007, misalnya, sekitar 36 persen dari jaringan jalan dilaporkan rusak, baik ringan maupun berat. Bandingkan dengan Tiongkok yang berani melangkah percaya diri di kancah global, karena pembangunan infrastruktur yang sangat luar biasa. Kecepatan dan maneuver dengan membangun 25 kilometer jalan baru per hari bisa menjadi contohnya.
Selanjutnya, bila dilihat dari kacamata politik ekonomi infrastruktur sendiri pertumbuhan infrastruktur yang lembek sangat kontradiktif dengan pertumbuhan APBN. Jika dilihat, belanja APBN Negara ini sudah Rp 1200 triliun. Bandingkan dengan APBN 2004 yag masih Rp 430 triliun. Jadi, dalam kurunwaktu sekitar enam tahun terdapat lonjakan sekitar Rp 770 triliun.
Jika dimaknai dengan paragraf sebelumnya, belanja APBD meluber tapi malah infrastruktur sangat merosot. Bahkan setiap tahun terdapat kekurangan belanja modal infrastruktur Rp 500 triliun. Karena itu, terbesit pertanyaan, bagaimanahal ini bisa terjadi? Dalam hal ini, setidaknya mengobok-obok politik infrastruktur di negeri ini patut dilakukan.
Pada konteks ini, menepatkan kebijakan yang memaksimalkan kesejahteraan dan kepentingan public harus dimaknai secar komprehensif dalam mereduksi moral hazard para pemangku kepentingan yang hanya mengedepankan kepentingan sendiri, self interest, baik individu maupun lembaga.
Dari sekian permasalahan, urgensi yang mutlak dilakukan pemerintah adalah menempatkan pembangunan infrastruktur di jajaran depan dalam pembangunan dalam pembangunan. Lebih-lebih dengan komitmen pemerintah yang akan membangun cluster industri di luar Jawa.
Dalam konteks ini pula, sistem perencanaan sistem perencanaan yang efektif dalam stimulus fiskal belanja infastruktur mutlak dilakukan. Hal yang perlu diperhatikan pemerintah adalah pembebasan lahan yang akan melancarkan belanja infrastuktur dan stimulus belanja infrastruktur.
Pendanaan sekiranya bukan persoalan utama jika ada komitmen dan prioritas. Apabila dana yang disediakan dari APBN hanya 25 persen dari total kebutuhan penyediaan infrastruktur. Bila segera diatasi, setidaknya hal ini bisa mereduksi larinya investor dari Jepang dan Korea yang tertarik membangun industri di Sumatera. Sebab, tidak terdapatnya pasokan listrik menyebabkan mereka lari ke Malaysia (Jawa Pos, 12/4/2011).
Pihak swasta pun tidak akan menjadi soluso masalah pendanaan jika klenik seputar iklim investasi, regulasi dan kepastian hukum tidak terjamin. Misalnya, terkait dengan UU tentang pengadaan lahan bagi kepentingan umum yang masih tarik ulur.
Untuk itu, permasalahan infrastruktur cukup sistemik. Pemerintah harus melihat bahwa masalah ini sangat korelatif dengan berbagai permasalahan lain. Kebijakan ini diharapkan juga harus dikerjakan secara extra-ordinary (luar biasa). Bila tidak, infrastruktur yang selama ini sudah dibangn malah menjadi kutukan dan bisa merusak proses ekonomi karena menjadi hambatan.

Sumber : 
http://www.feb.ub.ac.id/agus-suman-infrastruktur-penghambat-ekonomi.html

Likuiditas di Pasar Uang Antarbank Mulai Ketat

Diposting oleh Dyah Retno Wulandari di 11/05/2011 08:19:00 PM 0 komentar
Kamis, 3 November 2011 

Likuiditas di Pasar Uang Antarbank Mulai Ketat

JAKARTA - Usulan referendum oleh Perdana Menteri Yunani Papandreou dinilai menambah ketidakpastian situasi di Eropa. Bila rakyat menolak usulan talangan Dana Moneter Internasional (IMF), Yunani dianggap mengemplang utang sehingga berakibat semakin ketatnya likuiditas di pasar Eropa yang akan berimplikasi ke emerging market, termasuk Indonesia. 
"Dengan mengemplang, otomatis investor akan khawatir kalau negara-negara tetangganya akan ikut minta restrukturisasi seperti pada krisis 2008–2009. Mereka trauma menyalurkan kredit ke pasar fi nansial dan dipaksa membeli SUN karena akan lebih aman sehingga banyak SUN yang bermasalah," kata Ekonom Kepala Standard Chartered Bank Indonesia Fauzi Ichsan dalam diskusi Economic Outlook 2011 dengan tema "Mengukur Kekuatan Indonesia Menghadapi Krisis Global Lanjutan" di Jakarta, Kamis (3/11). 
Ia mengatakan jika Yunani mengemplang utangnya, secara otomatis harga surat utang negara latin di Eropa akan mengalami penurunan tajam. Jika harga SBN perbankan Eropa disamakan dengan harga pasar, akan memakan modal perbankan yang cukup besar sehingga perbankan Eropa akan mengalami krisis. "Mereka memarkir uangnya di European Central Bank (ECB) sehingga pasar uang Eropa akan macet," jelasnya. 
Hal itu akan berimplikasi negatif pada perbankan Asia. Pasalnya, perbankan Eropa mendanai 40–50 persen perbankan Asia, termasuk Indonesia. "Kita sekarang saja sudah merasakan ketatnya likuditas valas, pasar uang antarbank akan macet, dan yang terburuk dari Yunani mengemplang ini sehingga krisis akan berkepanjangan satu hingga dua bulan ke depan dan tidak mengubah fakta kekuatan ekonomi berubah ke timur," katanya. 
Deputi Menko Perekonomian bidang Perdagangan dan Industri Edy Putra Irawady mengatakan Indonesia memiliki pengalaman tiga kali krisis. Hal itu membuat ekonomi semakin kokoh di tengah krisis global, apalagi saat ini masih dalam tahap waspada. Apa yang terjadi di Eropa membuat perilaku korporasi banyak yang lari ke Indonesia. "Untungnya fondasi kita cukup kuat kalau lihat di dalam sendiri industri cukup kuat," katanya. fi a/E-9. 

Jumat, 04 November 2011

Wajah Koperasi Tani & Nelayan

Diposting oleh Dyah Retno Wulandari di 11/04/2011 08:36:00 PM 0 komentar
Wajah Koperasi Tani dan Nelayan di Indonesia

Latar Belakang
Meskipun koperasi pertanian pernah menjadi model pengembangan pada tahun 1960an hingga awal tujuh puluhan, namun pada dasarnya koperasi pertanian di Indonesia diperkenalkan sebagai bagian dari dukungan terhadap sektor pertanian. Sejak dahulu sektor pertanian di Indonesia selalu didekati dengan pembagian atas dasar sub-sektor seperti pertanian tanaman pangan, perkebunan, pertenakan dan perikanan. Cara pengenalan dan penggerakan koperasi pada saat itu mengikuti program pengembangan komoditas oleh pemerintah. Sehingga terlahir koperasi pertanian, koperasi kopra, koperasi karet, koperasi nelayan dan lain-lain. Dua jenis koperasi yang tumbuh dari bawah dan jumlahnya terbatas ketika itu adalah koperasi pertenakan sapi perah dan koperasi tebu rakyat. Kedua-duanya mempunyai ciri yang sama yaitu menghadapi pembeli tunggal pabrik gula dan konsumen kota.
Pada sub sektor pertanian tanaman pangan yang pernah diberi nama “pertanian rakyat” praktis menjadi instrumen untuk menggerakkan pembangunan pertanian, terutama untuk mencapai swasembada beras. Hal serupa juga diulang oleh pemerintah Orde Baru dengan mengaitkan dengan pembangunan desa dan tidak lagi terikat ketat dengan Departemen Pertanian seperti pada masa Orde Lama dan awal Orde Baru. Tugas koperasi pertanian ketika itu adalah menyalurkan sarana produksi pertanian terutama pupuk, membantu pemasaran yang kesemuanya berkaitan dengan program pembangunan sektor pertanian dan “penggerakannya” kepada koperasi selalu apabila gagal dilaksanakan sendiri atau langsung oleh pemerintah, contoh padi sentra, kredit BIMAS hingga distribusi pupuk.
KUD sebagai koperasi berbasis wilayah jumlahnya hanya 8620 unit dan pendiriannya memang tidak terlalu luas. Hingga menjelang dicabutnya Inpres 4/1984 KUD hanya mewakili 25% dari jumlah koperasi yang ada ketika itu, namun dalam hal bisnis mereka mewakili sekitar 43% dari seluruh volume bisnis koperasi di Indonesia. KUD meskipun bukan koperasi pertanian namun secara keseluruhan dibandingkan koperasi lainnya tetap lebih mendekati koperasi pertanian dan karakternya sebagai koperasi berbasis pertanian juga sangat menonjol. Diantara koperasi yang ada di Indonesia yang jumlahnya pada saat ini lebih dari 103 ribu unit, KUD termasuk yang mempunyai jumlah KUD aktif tertinggi yaitu 92% atau sebanyak 2931 unit KUD pada saat ini tidak berbeda dengan koperasi lainnya dan tidak memperoleh privilege khusus, tidak terikat dengan wajib ikut program sektoral, sehingga pada dasarnya sudah menjadi koperasi otonomi yang memiliki rata-rata anggota terbesar.
Koperasi pertanian yang digerakkan melalui pengembangan kelompok tani setelah keluarnya Inpres 18/1998 mempunyai jumlah yang besar, namun praktis belum memiliki basis bisnis yang kuat dan mungkin sebagian sudah mulai tidak aktif lagi. Usaha mengembangkan koperasi baru dikalangan tani dan nelayan selalu berakhir kurang menggembirakan. Mereka yang berhasil jumlah terbatas dan belum dapat dikategorikan sebagai koperasi pertanian sebagai mana lazimnya koperasi pertanian di dunia atau bahkan oleh KUD khusus pertanian yang ada.
Posisi Pertanian Kini dan Ke Depan
Posisi sektor pertanian sampai saat ini tetap merupakan penyedia lapangan kerja terbesar dengan sumbanagn terhadap pembentukan produksi nasional yang kurang dari 19%. Jika dimasukkan keseluruhan kegiatan off form yang terkait dan sering ditanyakan sebagai sektor agribisnis juga hanya mencakup 47% sehingga dominasi pembentukan nilai tambah juga sudah berkurang dibandingkan dengan sektor-sektor diluar pertanian. Isue peran pertanian sebagai penyedia pangan, bentuk ketahanan pangan juga menurun derajat kepentingannya.
Ditinjau dari unit usaha pertanian terdapat 23,76 juta unit atau 59% dari keseluruhan unit usaha yang ada. Disektor pertanian hanya terdapat 23,76 juta usaha kecil dengan omset dibawah 1 miliar/tahun diaman sebagian terbesar dari usaha tersebut adalah usaha mikro dengan omset dibawah Rp.50 juta/thn. Secara kasar dapat diperhitungkan bahwa hanya sekitar 670 ribu unit usaha kecil di sektor pertanian yang bukan usaha mikro, oleh karena itu daya dukungannya sangat lemah dalam memberikan kesejahteraan bagi para pekerja. Sementara itu penguasaan tanah berdasarkan sensus pertanian 1993 sekitar 43% tanah pertanian berada ditangan 13% rumah tangga dengan pemilikan diatas 1 hektar saja. Sehingga petani besar sebenarnya potensial dilihat sebagai modal untuk menjadi lokomotif pembangunan pertanian.
Problematika sektor pertanian di Indonesia yang akan mempengaruhi corak pengembangan koperasi pertanian dimasa depan adalah issue kesejahteraan petani, peningkatan produksi dalam suasana desentralisasi dan perdagangan bebas. Bukti empiris didunia mengungkapkan bahwa pertanian keluarga tidak mampu menopang kesejahteraan yang layak setara dengan sektor lainnya dalam suasana perdagangan bebas. Thema ini menjadi penting untuk melihat arah kebijakan pertanian dalam jangka menengah dan panjang, terutama penetapan pilihan sulit yang melilit sektor pertanian akibat berbagai Rasionalisasi. Kelangsungan hidup koperasi pertanian dimasa lalu sangat terkait politik reservasi tersebut, dan ke depan hal ini juga akan sangat menentukan.
Untuk melihat posisi koperasi secara kritis perlu didasarkan pada posisi sektor pertanian yang semakin terbuka dan bebas. Dengan dasar bahwa proses liberalisasi perdagangan yang berdampak pada sektor pertanian dalam bentuk dihapuskan kebijakan perencanaan pertanian yang kaku dan terpokus. Sehingga pengekangan program pembangunan pertanian tidak mungkin lagi dijalankan secara bebas, tetapi hanya dapat dilakukan secara lokal dan harus sesuai dengan potensi lokal. Olah karena itu prinsip pengembangan pertanian akan lebih bersifat insentif driven ketimbang program driven seperti  dimasa lalu. Dengan demikian corak koperasi pertanian akan terbuka tetapi untuk menjamin kelangsungan hidupnya akan terbatas pada sektor selektif yang memenuhi persyaratan tumbuhnya koperasi.
Sketsa Koperasi Pertanian di Masa Depan
Perkembangan koperasi pertanian ke depan digambarkan sebagai “restrukturisasi” koperasi yang ada dengan fokus pada basis penguatan ekonomi untuk mendukung pelayanan pertanian skala kecil. Oleh karena itu konsentrasi ciri umum koperasi pertanian di masa depan adalah koperasi kredit pedesaan, yang menekankan pada kegiatan jasa keuangan dan simpan pinjam sebagai ciri umum. Pada saat ini saja hampir di semua KUD, unit simpan pinjam telah menjadi motor untuk menjaga kelangsungan hidup Koperasi. Sementara kegiatan pengadaan sarana produksi dan pemasaran hasil menjadi sangat selektif. Hal ini terkait dengan struktur pertanian dan pasar produk pertanian yang semakin kompetitif, termasuk jasa pendukung pertanian (jasa penggilingan dan pelayanan lainnya) yang membatasi insentif berkoperasi.
Koperasi Nelayan karena kekuatan utamanya terletak pada kekuatan monopoli penguasaan pendaratan dan lelang oleh pemerintah, akan sangat di tentukan oleh policy daerah hak itu akan diberikan kepada siapa ? Pemerintah daerah juga potensial untuk melahirkan pesaing baru dengan membangun pendaratan baru. Dengan pengorganisasian atas dasar kesamaan tempat pendaratan pada dasarnya kekuatannya terletak pada daya tarik tempat pendaratan. Persoalan yang dihadapi koperasi nelayan ke depan adalah alih fungsi dari “nelayan tangkap”menjadi “nelayan budidaya”, karena hampir sebagian terbesar perairan perikanan pantai sudah di kategorikan overfishing. Fenomena ini juga terjadi di negara seperti Canada, Korea Selatan dan Eropa dimana koperasi nelayan sedang menghadapi situasi surut.
Koperasi perkebunan tetap mempunyai prospek yang bagus terutama yang terkait dengan industri pengolahan. Namun dalam situasi kesulitan menarik investasi karena kurangnya insentif, kebangkitan ini akan tertunda. Potensi besar sektor perkebunan untuk memanfaatkan kelembagaan koperasi dapat direalisasi dengan dukungan restrukturisasi status aset anggota dalam koperasi atau pengenalan konsep “saham” sebagai equity dibanding “simpanan” yang tidak transferable.
Koperasi di sub sektor peternakan terutama peternakan sapi perah apapun kebijakan yang ditempuh akan mampu berkembang dengan karakter koperasi yang kental. Prasyarat untuk memajukan koperasi di bidang persusuan ini dalam menghadapi persaingan global antara lain:
a.         Bebaskan anggota yang ada hingga usahanya minimal skala mikro atau minimal 10 ekor/anggota.
b.        Bebaskan setiap koperasi hingga mencapai satuan yang layak sebagai kluster peternakan minimal 15.000liter/hari dan idealnya menuju pada 100.000 liter/hari.
c.         Integrasi untuk konsep pertanian dan peternakan agar menjamin kesatuan unit untuk meningkatkan kepadatan investasi pertanian.
Untuk kegiatan pertanian lainnya agar lebih berhati-hati untuk mengenalkan konsep koperasi ke dalam kegiatan pertanian. Persyaratan usaha masing-masing anggota, kesesuaian struktur pasar dan keterkaitan jangka panjang antara bisnis anggota dan kegiatan koperasi akan tetap menjadi pertimbangan kepentingan untuk menumbuhkan koperasi pertanian. Pada akhirnya daerah otonom sebagai suatu kesatuan administrasi harus dilihat sebagai basis pemusatan koperasi.

Oleh: Dr. Noer Soetrisno – Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM, Kantor Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia
 

Dyah Retno Wulandari Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review